Makalah Strategi Meningkatkan Mutu Siaran Acara Religi Pagi di Programa 1 LPP RRI Medan
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji, kehormatan yang
tinggi, keberkahan, kerahmatan, kebaikan, dan kesucian ini hanya milik Allah
SWT sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Atas petunjuk-Nya pula sehingga
berbagai pihak berkenan memberikan bantuan, dukungan dan kemudahan dalam
penyusunan makalah ini. Untuk itu saya ingin menyampaikan penghargaan yang
setinggi-tingginya dan menghaturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada
semua pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Akhirnya dengan mengucapkan syukur
alhamdulillah makalah ini bisa tersusun. Tiada kata yang bisa saya ucapkan
selain kata syukur, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua. Aamiin.
Medan,
12 Desember 2022
Asyifah Nur Istyanti, S.Ag.
DAFTAR HALAMAN
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
HALAMAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
1.2 Latar Belakang
1.3 Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
KATA PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Makalah ini berjudul “Strategi
Meningkatkan Mutu Siaran Acara Religi Pagi di Programa 1 LPP RRI Medan”. Alasan
dipilih judul makalah ini dengan
berbagai alasan, salah satunya karena RRI sebagai radio tertua yang ada di
Indonesia, sebagai radio yang paling tua RRI tetap berusaha mempertahankan mutu
programanya agar tetap bisa dinikmati oleh pendengar.
1.2 Latar
Belakang
Menurut survey AC Nielsen tahun 2020 acara
keagamaan di RRI termasuk acara yang paling banyak pendengarnya. RRI sendiri
mempunyai 4 program siaran yang masing-masing programa memiliki program siaran
yang berbeda-beda.
Untuk programa I klasifikasi siarannya
berupa siaran hiburan, berita, iklan dan pendidikan. Sedangkan siaran agama
termasuk dalam program siaran pendidikan. Dalam hal siaran agama RRI programa I
menyiarkan semua agama yang ada dan diakui di Indonesia, yang menjadi fokus
dalam makalah ini adalah program siaran agama Islam terutama siaran religi
pagi, bagaimana strategi yang dilakukan oleh RRI dalam mempertahankan program
siarannya. Religi Pagi sudah berjalan kurang lebih 6 tahun secara live sangat tergantung dengan 1
orang. Jika narasumber berhalangan maka acara tidak dapat berjalan. Dengan cara
menyiarkan program-program siaran yang bervariasi dan bermutu agar tidak
menyebabkan kebosanan bagi pendengar.
Secara keseluruhan program-program yang
disiarkan sudah bisa dikatakan layak, karena program-program yang disiarkan
sudah disesuaikan dengan kebutuhan pendengar sehari-hari walaupun dalam hal ini
pihak RRI tidak melakukan penelitian secara mendalam tentang kegiatan pendengar
sehari-hari.
Untuk itu tahun 2022 direncanakan dengan 2
atau 3 narasumber (ustadz) selain untuk mengatasi kendala narasumber juga untuk
lebih memberikan variasi model penyampaian narasumber yang berbeda mengingat
rentang usia pendengar Programa 1 sangat luas dengan rentang usia 5 – 55 tahun.
Diharapkan dengan perencanaan Religi Pagi dengan model baru ditahun 2022 dapat
mewakili ragam usia dan karakter pendengar Programa 1. Namun program-program
yang disajikan sudah dikemas dengan format yang berbeda-beda dengan pemilihan
waktu dan jadwal yang disesuaikan dengan pendengar, sehingga untuk format acara
sudah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan masih perlu adanya
pembenahan dalam program siaran religi pagi.
1.3 Rumusan
Masalah
Saat ini orang dengan mudah mendapatkan
informasi dan ceramah melalui youtube, tetapi penonton tidak bisa langsung
berinteraksi dengan ustadz karena itu perlu dikembangkan dengan menggunakan media
sosial seperti chat dan media sosial lainnya. Radio merupakan media yang
memiliki peranan penting dalam menyampaikan informasi, baik bersifat hiburan,
iklan, berita maupun pendidikan. Mengingat radio adalah media komunikasi yang
memiliki keunggulan dibanding media komunikasi yang lain, yaitu hanya
membutuhkan kemampuan mendengar bagi khalayak yang ingin mengaksesnya. Sehingga
seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa tidak asing lagi
dengan media radio.
BAB II
PEMBAHASAN
Mengingat keunggulan radio yang
diantaranya bisa dibawa kemana mana, lebih murah dibandingkan dengan media yang
lain, bisa dinikmati sambil beraktivitas, membuat radio lebih disukai dibanding
media yang lain, apalagi dengan adanya aplikasi RRI Play Go sangat efisien
dimanapun bisa mendengarkan siaran RRI. Di tengah ketatnya persaingan industri
media, isu kualitas program menjadi semakin mengemuka, karena kualitas
dipandang sebagai syarat penting untuk memenangkan persaingan tersebut dalam
memperebutkan konsumen. Karenanya pengelola stasiun radio berusaha untuk
mengembangkan kebijakan bersaing dengan menarget kelompok pendengar yang lebih
spesifik.
Dengan berorientasi pada celah-celah
pendengar tertentu, aktifitas dalam perencanaan program (programming) menjadi
lebih efisien dan efektif karena target pendengar menjadi lebih jelas dan
spesifik. Hal ini kemudian dituangkan dalam format radio yang akan memberikan
arah bagi aktifitas programming untuk memenuhi kebutuhan target pendengar
terhadap jenis program tertentu yang diinginkan. Terkait dengan hal tersebut
maka stasiun radio membuat program-program yang dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan audiens, tidak terkecuali yang dilakukan RRI Programa I.
Untuk itu dibutuhkan strategi programming
pada stasiun radio untuk menentukan program-program yang sesuai atau menarik
untuk target audiensnya. Programming dapat di awali dengan melakukan penelitian
dan pemilihan materi program yang memenuhi selera pasar dan khalayak sasaran
yang diinginkan. Minat dan kebutuhan audiens memegang peranan penting dalam
penyusunan program. Secara kualitatif, sebuah radio yang baik akan mampu
menghasilkan program siaran yang sesuai dengan kebutuhan khalayak sasaran. Pada
dasa warsa pembangunan pertama terjadi banyak perubahan, baik masyarakat maupun
dalam sistem pengelolaan media massa. RRI tidak lagi menjadi aktor tunggal
tanpa saingan dalam dunia komunikasi melalui media elektronik, karena semakin
bermunculan radio siaran swasta maupun televisi.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan
kiprah RRI dalam pembangunan nasional hingga sekarang. Dengan program-program
yang disajikan RRI khusus untuk siaran agama karena Medan banyak beragam agama
sehingga hampir semua agama diberikan waktu untuk mengisi, diantaranya Agama Islam, Katholik, Advent, Protestan,
Kong Hu Cu, Budha, Hindu, siaran pendidikan, seni dan budaya, musik dan
hiburan, berita dan lain-lain. Dengan berbagai program yang disajikan RRI
mencoba untuk tetap eksis di media penyiaran, ditengah-tengah persaingan yang
begitu ketat, dengan cara terus memperbaiki mutu program agar tetap diminati
oleh masyarakat. Dalam melakukan penyiaran baik berupa siaran hiburan,
informasi, dan pendidikan tidak memihak kepada salah satu golongan, baik suku,
ras, budaya, maupun agama.
Karena RRI adalah radio milik bangsa, oleh
karena itu dalam proses siarannya RRI Programa I selalu menjunjung tinggi nilai
keadilan dan toleransi terhadap berbagai unsur bangsa di Indonesia. Dalam
melakukan siarannya, RRI mengemas dengan berbagai format acara dengan tujuan
agar pendengar tidak merasa bosan untuk tetap mendengarkan program-program yang
disajikan.
Khusus untuk siaran agama Islam, RRI tidak
hanya mengemas dalam bentuk ceramah-ceramah agama saja, tetapi juga diselingi
dengan acara keagamaan yang disiarkan secara langsung seperti sholat Jum’at dan
peringatan hari-hari besar agama. Selain itu RRI Programa I juga menampilkan
format acara berbentuk seni dan kreatifitas agama. Setiap hari dibuka dengan
Religi Pagi, One Day One Ayat menjelang magrib, kemudian malam hari ada acara
Mimbar Agama. Programming dapat dipahami baik sebagai aktivitas, maupun sebagai
hasil dari suatu aktivitas. Sebagai hasil dari suatu aktivitas, programming
adalah konsekuensi dari aktivitas pemrograman itu sendiri.
Aktivitas dakwah biasanya dilakukan dalam
bentuk face to face dan melalui penggunaan media massa. Teknologi yang apabila
didayagunakan tentu akan mampu memberikan pengaruh yang besar dalam
penyebarluasan dakwah. Misalnya saja contoh kasus yang selama ini sering kita
lihat dalam kehidupan sehari-hari, seorang dai yang memiliki banyak jam
terbang, hari ini mengisi ceramah di Kabupaten Langkat, sedang sorenya iapun
harus mengisi ceramah di masjid kabupaten lain tentu akan mengurangi
keefektifan dai tersebut. Mungkin saja materi yang akan disampaikan tidak akan
maksimal karena rasa lelah di perjalanan masih terasa, atau bahkan
mengakibatkan sang dai jatuh sakit dikarenakan kelelahan dan seringnya yang
terjadi banyak dai yang tidak tepat waktu dalam menghadiri undangan ceramahnya
karena di perjalanan sedang macet dan sebagainya. Maka dari itu, era
globalisasi informasi menciptakan tuntutan bagi manusia terhadap agama itu
sendiri.
Zaman semakin menuntut agama untuk
melakukan adaptasi, yang berarti para dai harus mengaktualisasikan ajaran agama
Islam kedalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Dewasa ini dakwah telah
dipraktekkan dalam berbagai aktifitas manusia misalnya di bidang sosial,
ekonomi, politik bahkan teknologi. Hal ini menandakan bahwa manajemen strategi
dalam menyiarkan dakwah menjadi semakin berkembang dan ini memang sewajarnya
haruslah diterapkan demi tercapainya cita-cita dakwah umat Islam yang dulu
pertama kali disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dengan berhasilnya dakwah menyentuh semua
bidang itu menandakan bahwa dakwah itu bukanlah hanya dari mimbar ke mimbar
saja. Dengan semakin luasnya medan itu berarti semakin membutuhkan banyak sosok
dai yang nantinya akan berperan di dalamnya. Setiap media baik cetak maupun elektronik
harus memiliki ciri khas dan khalayak termasuk bagi medium radio. Dakwah dan
amar ma’ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan
menyajikan ajaran Islam dengan sempurna.
Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa
kemajuan dakwah yang terlihat dari eksistensinya mengisi diberbagai layar kaca
dan radio menandakan bahwa event dakwah itu sendiri sudah bukan hal yang asing
di telinga masyarakat, sehingga dengan itu bukan hal yang tidak mungkin jika
berbagai organisasi Islam memperebutkan calon mad’u nantinya.
Oleh karena itu dalam menyiarkan dakwah
haruslah menggunakan strategi yang baik agar dapat menghasilkan konsep yang
menarik sehingga dapat meningkatkan mutu materi dakwahnya dan mampu menarik
minat banyak penonton atau pendengar. Terkhusus dari medium radio itu sendiri,
agar mampu meningkatkan mutu dan menarik banyak peminat, maka kreatifitas dalam
memperdengarkan dakwah tentu diperlukan, seperti diselingi dengan musik religi,
kisah sahabat Nabi dan sebagainya. Namun tidak pula terlalu membuat pendengar
menjadi lebih bosan dikarenakan event keagamaan yang terlalu mendominasi.
Maka dari itu diperlukan keseimbangan
antara dakwah dan hiburan dan tidak juga berat pada salah satunya. Inilah
sebabnya manajemen strategi harus diterapkan dalam setiap lembaga khususnya
dalam hal ini adalah lembaga penyiaran dakwah. Oleh karena itu, metode dakwah
melalui radio ini telah banyak digunakan oleh berbagai lembaga penyiaran. Dari
berbagai lembaga penyiaran itu tidak sedikit pula yang berguguran. Tidak banyak
radio siaran keagamaan yang bertahan hingga saat sekarang, mungkin karena
persaingan antar radio yang semakin banyak ataukah kurangnya minat para
pendengar akan siaran keagamaan dikarenakan mutu siarannya yang tidak sesuai
keinginan para pendengar. Maka dari itu penerapan standar mutu dalam suatu
lembaga penyiaran sangatlah menentukan kualitas siaran dari lembaga tersebut.
Dengan adanya standar mutu, para dai akan lebih terarah dalam merumuskan format
siaran keagamaannya.
Berdasarkan teori manajemen penyiaran
keagamaan, salah satu bentuk penerapan standar mutu pada lembaga penyiaran
yaitu dengan dilakukannya riset sebelum merumuskan suatu program yang akan
disiarkan. Riset dilakukan guna mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan dan
minat mad’u, baik itu riset rating ataupun riset non-rating. Dapat disimpulkan
bahwa manajemen strategi dakwah dalam penyiaran ialah suatu seni dalam
menyelesaikan kegiatan dakwah, yakni upaya mengajak manusia ke jalan Allah yang
teraktualisasikan dalam bentuk kemaslahatan dan pencegahan kemunkaran melalui
dunia penyiaran yang berdasarkan atas kiat, cara serta taktik dengan tujuan
yang jelas dan dicapai dengan menggunakan sumber-sumber tenaga manusia dan
bukan tenaga manusia, dalam hal ini Radio Syiar untuk merencanakan, menganggarkan,
mengorganisasikan, mengarahkan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi
siaran-siaran dan program-program dari radio tersebut untuk mencapai tujuan
keseluruhan organisasi secara efisien dan efektif.
Dengan kata lain adanya format siaran yang
baik dalam suatu lembaga penyiaran berarti terdapat manajemen yang baik pula dalam
lembaga penyiaran tersebut. Ada beberapa bagian manajemen dalam stasiun radio
diantaranya :
a.
Pengorganisasian
siaran radio.
b.
Rapat umum
pemegang saham (RUPS). RUPS merupakan organ perseroan yang memiliki kedudukan
tertinggi dalam menentukan arah dan tujuan perseroan. Adapun wewenang RUPS
meliputi penetapan dan perubahan anggaran dasar perseroan, penetapan dan
pengurangan modal, pemeriksaan dan persetujuan serta pengesahan laporan
tahunan, penetapan penggunaan laba, pengangkatan dan pemberhentian direksi dan
dewan komisaris, penetapan mengenai penggabungan dan peleburan serta
pengambilalihan perseroan, dan penetapan pembubaran perseroan.
c.
Komisaris
merupakan organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum atau
khusus sesuai anggaran dasar perseroan, serta memberikan nasihat kepada
direksi.
d.
Direksi merupakan
pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan yang
terkait dengan upaya pencapaian tujuan dalam sebuah perseroan terbatas
khususnya dalam menetapkan sasaran pemasaran dan mengendalikan pengeluaran.
e.
Manajer operasinal
siaran, bertanggung jawab atas segala hal terkait pelaksanaan siaran.
f.
Manajer marketing
dan customer care, bertanggung jawab untuk menjual produk radio tersebut agar
dapat mendatangkan penghasilan bagi perusahaan.
g.
Manajer dukungan
manajemen, memiliki peranan yang signifikan dalam pengorganisasian sebuah
stasiun radio, serta berperan sebagai tim yang senantiasa mendukung kinerja
keseluruhan departemen.
h.
Manajer off-air
adalah divisi yang secara khusus menangani kegiatan promo melalui
penyelenggaraan beragam event dan dilakukan secara off-air atau di luar program
siaran on-air harian.
Format dalam program radio adalah kemasan
yang mengemas program pagi, siang, sore, malam dan dini hari. Kesemuanya
diformulasikan dalam rencana siaran mingguan, bulanan dan tahunan. Kemasan ini
menjadi ciri dari sebuah stasiun radio yang dapat dilihat dari siaran kata atau
musik. Penyelenggaraan siaran harus dapat melihat dan mengambil peluangpeluang
yang memungkinkan suatu format berkembang.
Kesalahan menetapkan format dapat
berakibat fatal. Sederhananya, format dapat dibentuk melalui musik, artinya
warna musik tertentu menjadi ciri dari sebuah stasiun radio. Misalnya Radio
Elshinta, pendengar akan mudah mengenali stasiun ini tanpa harus melihat
gelombang. Hanya dengan mendengar musik-musik Jazzy yang disajikan radio ini.
Format radio dapat menentukan khalayaknya
(siapa pendengar radio yang bersangkutan). Format tersebut dijabarkan dalam
program-program. Selanjutnya tersebar ke siaran mingguan, bulanan, dan tahunan.
Penentuan format program siaran didasari pada segmen khalayak. Dengan sasaran
yang jelas dan tajam memungkinkan acara lebih terarah dan menarik, sehingga
memiliki nilai jual yang tinggi.
Kesimpulannya, setiap radio harus
mempunyai format yang jelas. Format ini dapat menjadi ciri dari stasiun radio
yang bersangkutan sehingga setiap pendengar mampu mengenali suatu stasiun radio
hanya dengan mendengar musik khas sebagai format khusus dari radio tersebut.
Berbeda siaran radio juga akan sangat memungkinkan memiliki mekanisme siaran
yang berbeda. Namun pada dasarnya setiap stasiun radio mengacu pada prinsip
yang sama, yaitu menyampaikan informasi yang didapat dari lapangan ke ruang
dengar audiens. Tahap mekanisme siaran terdiri dari perencanaan siaran,
pelaksanaan siaran, dan pengendalian mutu siaran. Perencanaan siaran
digambarkan sebagai berikut :
a.
Program Director
menyusun rundown program acara, yaitu menyususn setiap slot waktu dengan
elemen-elemen program acara. Kemudian mendistribusikan rundown program acara
tersebut kepada music director, redaksi, produksi dan traffic.
b.
Music Director,
redaksi, produksi dan traffic membuat dan mengarsipkan elemen-elemen program
acara (materi siaran). Kemudian masing-masing materi siaran dijadwalkan sesuai
slot waktu yang telah ditentukan.
c.
Approval rundown
acara. Ini adalah proses pemeriksaan untuk memastikan bahwa program acara telah
siap dengan materi siaran dan layak untuk disiarkan.
d.
Pra-Siaran.
Tahapan persiapan yang dilakukan oleh penyiar sebelum melakukan tugas siaran.
Setelah melalui tahapan perencanaan
siaran, maka tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan siaran. Pada tahapan ini
seluruh elemen-elemen program acara siap dieksekusi dan disajikan ke ruang
dengar audiens. Tahapan terakhir setelah program siaran selesai dilaksanakan
adalah tahap pengendalian mutu siaran. Untuk mengendalikan mutu siaran, akan
dilakukan kegiatan pemantauan, pencatatan dan evaluasi. Kemudian menindak
lanjuti hasil evaluasi agar standar mutu siaran yang telah ditetapkan dapat
tercapai. Pengendalian mutu siaran dilakukan terhadap semua elemen yang
terlibat dalam program acara dan dilakukan secara berkala harian, mingguan dan
bulanan. Mutu merupakan baik buruk suatu benda, kadar, taraf atau derajat
(kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya). Jika dikaitkan dengan mutu siaran
dapat diartikan sebagai penetapan baik buruknya suatu siaran dari lembaga
penyiaran berdasarkan taraf atau derajat kualitas siarannya.
Ditarik kesimpulan bahwa standar mutu
siaran ialah adanya persyaratan yang biasanya berupa dokumen formal yang
menciptakan kriteria terhadap penetapan baik buruknya suatu siaran dari lembaga
penyiaran berdasarkan taraf atau derajat kualitas siarannya.
Terdapat dua langkah pokok dalam proses
pengawasan yang harus dilaksanakan sehingga fungsi pengawasan berjalan dengan
efektif dengan hasil optimal dalam suatu media penyiaran :
a.
Penetapan Standar
Mutu Program
Dalam
tahapan ini ditentukan standar-standar kualitas sebuah program yang selanjutnya
digunakan untuk menilai hasil pelaksanaan perencanaan program. Keputusan
standar mutu diputuskan oleh manajemen berdasarkan informasi tentang kebutuhan
konsumen yang diperoleh melaui riset dan dipadukan dengan data kemampuan serta
keterbatasan perusahaan.
b.
Evaluasi Program
Merupakan upaya
untuk mengukur/menilai sampai dimana program yang disiarkan telah berhasil
mencapai tujuan. Dari uraian mengenai umpan balik tersirat bahwa umpan
balik/respon yang diterima dari khalayak juga berfungsi sebagai bahan evaluasi
terhadap program yang disiarkan. Adapun tujuan dari evaluasi tersebut adalah
untuk kebanggaan, dalam arti kita telah melakukan sesuatu yang berharga,
memperoleh informasi Evaluasi sebuah program radio dapat dilakukan secara
kontinyu dan teratur minimal enam bulan sekali. Hal ini untuk menjaga kedekatan
dengan dinamika keinginan pendengar dalam menghadapi kompetisi program siaran
antara stasiun yang sudah semakin sengit. Evaluasi dapat dilakukan melalui
laporan tertulis dari produser atau presenter tentang kendala yang dihadapi,
featback pendengar saat acara berlangsung, inspeksi secara langsung saat
disiarkan program, mendengarkan rekaman program setelah disiarkan program, atau
dapat jug melaui analisis pencapaian rating hingga focus group discussion.
berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan program, memfokuskan usahausaha
yang dilakukan, memberi kesempataan belajar tentang sasaran pelaksanaan.
Mengevaluasi suatu program siaran merupakan upaya yang objektif untuk mengukur
sampai dimana keefektifan program yang disiarkan. Dengan evaluasi, kita dapat
mengetahui dimana kegagalan dan keberhasilan kita serta dapat menentukan
langkah lebih lanjut dalam menyempurnakannya.
Ditinjau dari segi teoritis, siaran
keagamaan merupakan program dari media penyiaran yang terkhusus menyiarkan
siaran keagamaan yang bertujuan untuk lebih mendekatkan para pendengarnya
kepada Allah swt. Sebelum lebih jauh
membahas mengenai siaran keagamaan, terlebih dahulu perlu kita ketahui mengenai
pedoman perilaku penyiaran. Adapun dijelaskan dalam UU Republik Indonesia Nomor
32 tahun 2002 BAB V pasal 48 tentang pedoman perilaku penyiaran bahwa :
1.
Pedoman perilaku
penyiaran bagi penyelenggaraan siaran ditetapkan oleh KPI.
2.
Pedoman perilaku
penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun dan bersumber pada :
a)
Nilai-nilai agama,
moral dan peraturan perundang-undangan yang berlaku
b)
Norma-norma lain
yang berlaku dan diterima oleh masyarakat umum dan lembaga penyiaran.
3.
KPI wajib
menerbitkan dan mensosialisasikan pedoman perilaku penyiaran kepada Lembaga
Penyiaran dan masyarakat umum.
4.
Pedoman perilaku
penyiaran menentukan standar isi siaran yang sekurang-kurangnya berkaitan
dengan :
a)
Rasa hormat
terhadap pandangan keagamaan,
b)
rasa hormat
terhadap hal pribadi,
c)
kesopanan dan
kesusilaan,
d)
pembatasan adegan
seks, kekerasan dan sadisme,
e)
perlindungan
teerhadap anak-anak, remaja dan perempuan,
f)
penyiaran program
dalam bahasa asing,
g)
ketepatan dan
kenetralan program berita,
h)
siaran langsung
dan
i)
siaran iklan.
5.
KPI memfasilitasi
pembentukan kode etik penyiaran. Dalam beberapa poin di atas disebutkan agar
setiap lembaga penyiaran untuk tetap berlandaskan kepada nilai-nilai agama dan
moral dalam membuat program yang disiarkan. Terkhusus mengenai lembaga
penyiaran keagamaan, tentu nilai agama dan moral jelas tidak dilupakan dalam
setiap perumusan programnya, maka dari itu pada pembahasan ini dibahas pula
beberapa tinjauan Berdasarkan peraturan Komisi Penyiaran Indonesia No.03 Pasal
18 Tahun 2007 mengenai standar program siaran agama disebutkan beberapa standar
kelulusan disiarkannnya suatu program agama jika memenuhi syarat sebagai
berikut :
a)
Lembaga penyiaran
dilarang menyiarkan program yang mengandung serangan, penghinaan ataun
pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan keagamaan tertentu.
b)
Siaran agama harus
menghargai etika hubungan antar agama.
c)
Kontroversi
mengenai pandangan atau faham dalam agama tertentu harus disajikan secara
berimbang oleh lembaga penyiaran.
d)
Lembaga penyiaran
tidak menyajikan program berisi penyebaran ajaran dari suatu sekte, kelompok
atau praktek agama tertentu yang dinyatakan secara resmi oleh pihak berwenang
sebagai kelompok yang dilarang.
e)
Lembaga penyiaran
tidak menyajikan program berisikan perbandingan antaa agama.
f)
Lembaga penyiaran
tidak boleh menyajikan informasi tentang perpindahan agama seeorang atau
sekelompok orang secara rinci dan berlebihan, terutama menyangkut alasan
perpindahan agama.
Tujuan Siaran Keagamaan, adapun beberapa tujuan tersebut
diantaranya :
a)
Penambah
pengetahuan pendengar, yaitu terbentuknya pribadi Muslim yang taat, berperilaku
sesuai dengan hukum-hukum Allah swt. dan berakhlak karimah.
b)
Bertujuan untuk
terbentuknya keluarga bahagia, penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota
keluarga.
c)
Bertujuan untuk
membentuk masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana keislaman.
d)
Membentuk
masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan dengan tegaknya
keadilan, persamaan hak dan kewajiban, tidak adanya diskriminasi dan eksploitasi
dan saling tolong menolong dan menghormati.
Berikut penjelasan tentang acara Religi
pagi di programa 1 dimulai bulan Agustus tahun 2016 dengan nama acara Inspirasi
Pagi 94.3 Mhz. diisi oleh Ustadz M. Sholihul Amri, acara live dari Masjid Al
Muttaqin di Kompleks Eks. Linud 100 Medan Sunggal setiap hari sesudah
melaksanakan solat subuh dengan mengajak pendengar bergabung melalui telepon,
SMS dan WA, dengan topik yang berganti setiap hari.
Alhamdulillah antusias dari pendengar
banyak dan mendapat perhatian khusus sehingga menjadi acara unggulan. Seiring
berjalannya waktu dan ingin ada perubahan tepatnya bulan Juni 2021 Religi Pagi
diisi oleh ustadz M. Fadli Sudiro, MSQ. Acara tetap secara live melalui
telepon, dengan membahas berbagai topik yang beragam. Setiap hari mendapatkan
respon dari pendengar melalui telepon, SMS dan WA, dengan durasi siaran kurang
lebih 30 menit.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Radio Republik Indonesia sebagai radio
publik milik bangsa, dapat disimpulkan bahwasanya strategi yang telah
diterapkan dalam program siaran khususnya Religi Pagi bukanlah strategi yang
asal-asalan melainkan dengan menggunakan kriteria strategi programming menurut
Sydney W. Head.
Strategi
programming di RRI
Programa I khususnya
untuk program Religi Pagi
merupakan program yang menjadi fokus dalam makalah ini adalah : Compatibility (kesesuaian),
yaitu program siaran
Religi Pagi yang disiarkan
bertepatan dengan waktu
yang sesuai dengan
kegiatan target audiens.
Walaupun
dalam hal ini
RRI Programa I
tidak melakukan riset
audiens sebelum program
berlangsung, namun RRI
punya cara sendiri
untuk membuat program
agar sesuai dengan
audiens yaitu dengan
melakukan riset audiens
melalui line telepon, SMS dan juga WA ke pendengar
RRI.
Namun
demikian program-program siaran agama Islam yang disajikan tersebut
mampu menempatkan pada posisi yang
tepat sesuai waktu
luang audiensnya. Selain itu program-program yang disajikan
berusaha menumbuhkan kebiasaan audiensnya untuk mendengarkan program (habit
formation) dengan pembuatan flyer yang dishare melalui medsos Programa 1 LPP
RRI Medan .
Hal ini menjadikan pendengar menjadi
fanatik dan loyal terhadap program-program yang disajikan. Program Religi
Pagi yang disiarkan
tersebut juga menjaga
jumlah audiens yang
dimiliki (control of audience
flow) dengan menetapkan
standar mutu sehingga program yang disiarkan terjamin kualitasnya.
Kemudian
dilakukan pengawasan dan
evaluasi yang ditujukan
pada kinerja penyiar atau tim produksi agar dapat
diketahui sudah sesuai dengan SOP atau belum.
Dengan jaminan teknisinya
telah memenuhi kualifikasi,
penyiarnya juga telah memenuhi SOP,
diyakini program tersebut banyak yang mendengarkan. Dalam menyusun strategi
programming juga dilakukan conservation of progress (kelestarian
sumber daya program).
Pelaksanaan program
dituntut untuk kreatif
dalam menyajikan materi
program, hal ini
berkaitan dengan sumber daya manusia yang meliputi produser,
penyiar, script writer, koordinator
program dan lain-lain.
Perangkat siar juga
dibutuhkan dalam elemen ini. Materi program menjadi perhatian
utama bagi koordinator program,
dengan membagi materi
program menjadi dua
bagian, yaitu daily
program (program harian)
dan weekly program (program
mingguan), materi tersebut dapat digarap dengan matang.
Tiap-tiap
acara pada program
siaran agama Islam
mempunyai daya tarik
yang tersendiri (breadth of
appeal) dan berbeda-beda,
yang sengaja di
konsep untuk memanjakan dan menghibur pendengar. Namun daya tarik yang
berbeda tersebut semuanya memiliki nilai hiburan yang tinggi. Secara umum
program siaran agama
Islam yang disiarkan
oleh RRI sudah memenuhi teori dari strategi
programming, meski masih perlu pembenahan lagi dalam perencanaan program siaran
agama Islam dan pemilihan acara agar program acara yang disajikan benar-benar
sesuai dengan kebutuhan pendengar.
Namun demikian RRI sudah berusaha memenuhi
kebutuhan pendengar memperoleh informasi, hiburan, dan khususnya
pendidikan agama Islam
melalui program-program yang
disajikan, walaupun masih perlu pembenahan lagi. Terutama dan
terkhusus dalam acara Religi Pagi yang menjadi judul makalah ini.
3.2
Saran
1.
Harus diadakan
penelitian khusus mengenai
program baik secara
mandiri maupun dengan
bantuan lembaga riset,
sehingga dapat diketahui
seperti apa karakteristik,
kesukaan pendengar dan juga diminati serta disukai maupun tidak disukai
pendengar. Penelitian yang selama ini dilakukan masih terlalu luas, sehingga
masih dirasakan kurang manfaatnya bagi program itu sendiri.
2.
Diperlukan
perencanaan yang matang dan sistematis dalam suatu program acara, sehingga
faktor-faktor tidak terduga dapat diminimalisir.
3.
Evaluasi dan
pengawasan program sebaiknya dilakukan secara lebih intensif dan
periodik, agar kesalahan
atau penyimpangan dapat
segera diatasi.
4.
Untuk program
yang disiarkan secara
live, memerlukan sumber
daya manusia yang berkualitas.
Pemilihan masing-masing anggota tim produksi harus dipertimbangkan dengan
benar, berdasarkan kemampuan,
kemauan, kerja keras,
serta loyalitasnya, sehingga
tidak terjadi bongkar
pasang tim produksi yang akan berpengaruh buruk terhadap
proses dan hasil kerja tim produksi itu sendiri.
5.
Betapapun
suksesnya suatu program, pasti menemui berbagai kendala dan hambatan, oleh
karena itu bagaimanapun caranya radio siaran dapat meminimalisir dan mengatasi
berbagai macam kendala dan hambatan yang terjadi, serta menutupnya dari
berbagai kelebihan dan keunggulan program-program yang ditawarkan kepada
pendengar.
6.
Strategi
programming mempunyai arti penting dalam menentukan kesuksesan dan
kelangsungan hidup suatu
radio siaran. Oleh
karena itu radio
siaran harus berupaya
semaksimal mungkin untuk
merencanakan, membuat dan melaksanakan strategi programming yang
benar-benar tepat.
KATA PENUTUP
Sebagai
kata penutup, tidak
ada kata yang
pantas penulis ucapkan,
selain ucapan syukur alhamdulillah, karena atas karunia, rahmat dan
hidayahNya, akhirnya makalah ini
dapat terselesaikan.
Namun
dalam penyusunan makalah
ini masih terdapat
banyak kekurangan dan
kelemahan, untuk itu kritik dan saran yang membangun
sangat diharapkan demi
sempurnanya makalah ini,
walaupun tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini karena
kesempurnaan hanya milik Allah.
Dengan
selesainya penulisan makalah
ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang
positif bagi perkembangan program di Radio Republik Indonesia juga
untuk kemajuan keilmuan khususnya acara Religi pagi.
Akhirnya
kepada Allah jualah
kita berserah diri
dengan memohon pertolongan
dan petunjukNya agar
makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca
umumnya dan bagi
Programa 1 LPP RRI Medan khususnya.
Medan,
12 Desember 2022
Asyifah
Nur Istyanti, S.Ag.
Comments
Post a Comment